Marah? Awas sakit jantung?
Kalian mungkin suka mendengar ungkapan "Jangan suka marah, nanti jantungan!". Ungkapan tersebut mungkin ada benarnya juga.
Sebuah penelitian di AS menunjukkan bahwa pria yang berwatak keras lebih sering mengalami sakit jantung lebih awal dibandingkan pria yang berwatak lebih lembut.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 1000 orang pria. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pria yang selalu merasa pada situasi penuh tekanan dengan perasaan marah dan mudah tersinggung akan mengalami risiko gangguan jantung lebih tinggi tiga kali lipat sebelum berusia 55 tahun. Pria dengan kondisi ini juga lebih sering terkena serangan jantung sebelum berusia 5 tahun.
Dari 1000 orang pria tersebut, 8% nya diduga menderita penyakit jantung lebih awal. Risiko serangan jantung lebih besar terjadi pada pria yang peka dan selalu memendam rasa amarahnya. Tidak hanya itu, kemarahan juga bisa meningkatkan risiko depresi (tekanan batin) dan kecemasan yang terkait dengan peningkatan risiko stroke.
Rasa marah diduga dapat meningkatkan pelepasan katekolamin, yaitu suatu bahan yang mengakibatkan terjadinya penyempitan pembuluh darah, meningkatkan denyut jantung dan meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu,kita harus bisa mengontrol rasa marah karena dengan mengontrol rasa marah maka risiko serangan jantung pada usia muda juga bisa diturunkan.
<dikutip dari buku biologi bilingual kls VIII & www.info-sehat.com>
Rabu, 23 Januari 2013
Gerbang ilmu
Kolam Renang Memicu Serangan Ama
Mungkin diantara kalian pernah mendengar kalau berenang baik untuk penderita asma. Ternyata hal itu tidak benar, justru berenang dapat memperberat asma yang dideritanya, bahkan orang yang sehat juga dapat menderita asma apabila sering renang.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Hal ini berhubungan dengan klorin yang sering digunakan untuk disinfektan pada kolam renang. Klorin dapat menyebabkan gangguan pernapasan bagi para perenang, seperti munculnya seranagan asma setelah mereka berenang selama beberapa menit.
Pada penelitian terlihat perenang yang berada dalam kolam renang selama 6-8 menit, tiga kali lebih sering mengalami serangan asma (asma yang dipicu oleh olahraga) dibanding bila mereka berenang di kolam yang mengandung kadar klorin rendah atau berolahraga di darat.
Kadar klorin yang dianjurkan sebagai disinfektan untuk kolam renang mempunyai batas hingga 2 ppm. Akan tetapi untuk yang mempunyai serangan asma, klorin dengan batas tersebut dpat menyebabkan iritasi dan penyempitan pada salurn napasnya. Oleh karena itu, untuk yang mempunyai riwayat asma tetapi menyukai olahraga berenang dapat tetap melanjutkan hobinya, akan tetapi dengan menggunakan kolam renang berkadar klorin rendah (dibawah 0,5 ppm).
<dikutip dari buku biologi bilingual kelas 8 SMP>
Mungkin diantara kalian pernah mendengar kalau berenang baik untuk penderita asma. Ternyata hal itu tidak benar, justru berenang dapat memperberat asma yang dideritanya, bahkan orang yang sehat juga dapat menderita asma apabila sering renang.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Hal ini berhubungan dengan klorin yang sering digunakan untuk disinfektan pada kolam renang. Klorin dapat menyebabkan gangguan pernapasan bagi para perenang, seperti munculnya seranagan asma setelah mereka berenang selama beberapa menit.
Pada penelitian terlihat perenang yang berada dalam kolam renang selama 6-8 menit, tiga kali lebih sering mengalami serangan asma (asma yang dipicu oleh olahraga) dibanding bila mereka berenang di kolam yang mengandung kadar klorin rendah atau berolahraga di darat.
Kadar klorin yang dianjurkan sebagai disinfektan untuk kolam renang mempunyai batas hingga 2 ppm. Akan tetapi untuk yang mempunyai serangan asma, klorin dengan batas tersebut dpat menyebabkan iritasi dan penyempitan pada salurn napasnya. Oleh karena itu, untuk yang mempunyai riwayat asma tetapi menyukai olahraga berenang dapat tetap melanjutkan hobinya, akan tetapi dengan menggunakan kolam renang berkadar klorin rendah (dibawah 0,5 ppm).
<dikutip dari buku biologi bilingual kelas 8 SMP>
Tantangan matematika
Langganan:
Postingan (Atom)

